PAD Lompat Rp 553 Miliar, Rakyat Menjerit: Pajak Dicekik, Obat RSUD Kosong di Lombok Timur

LOMBOK TIMUR, RK Pemerintah Kabupaten Lombok Timur tengah bertepuk tangan merayakan capaian Pendapatan Asli Daerah (PAD) 2025 yang diklaim m...


LOMBOK TIMUR, RK

Pemerintah Kabupaten Lombok Timur tengah bertepuk tangan merayakan capaian Pendapatan Asli Daerah (PAD) 2025 yang diklaim menembus Rp 553 miliar. Angka itu disebut-sebut sebagai rekor tertinggi sepanjang sejarah daerah.


Namun di balik gemerlap statistik fiskal tersebut, realitas yang dirasakan warga justru berbanding terbalik. Pajak kian mencekik, layanan publik ambruk, dan rumah sakit daerah terseok-seok di tengah krisis obat serta tunggakan miliaran rupiah. PAD melonjak, rakyat justru terhimpit.


Lonjakan PAD Lombok Timur kini dinilai lebih mirip hasil “pemerasan fiskal” ketimbang buah pertumbuhan ekonomi yang sehat. Tekanan pajak menyasar hampir semua lapisan, dari warga desa hingga pelaku usaha kecil.


Koordinator Gerakan Menolak Pajak (GEMPA NTB), Hadiyat Dinata, menyebut kenaikan PAD tidak lahir dari penguatan ekonomi rakyat, melainkan dari agresivitas pungutan yang kerap melampaui batas kewenangan.


Salah satu praktik yang disorot adalah pemungutan Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan (BPHTB/DBHTB) terhadap warga yang sama sekali tidak melakukan transaksi jual beli tanah.


Kasus menimpa warga Kecamatan Jerowaru berinisial LGN. Ia dipungut DBHTB sebesar Rp 4.108.880 hanya untuk proses validasi sertifikat tanah seluas 16 are, dengan alasan penyesuaian Nilai Jual Objek Pajak (NJOP). Padahal, tidak ada peralihan hak, tidak ada jual beli, tidak ada transaksi hukum.


“Ini bukan kesalahan administrasi. Ini pungutan tanpa dasar hukum. DBHTB adalah pajak atas perolehan hak, bukan pajak atas kepemilikan diam,” tegas Dinata, Selasa (27/1/2026).


Menurutnya, praktik semacam ini mencederai asas legalitas perpajakan dan menunjukkan bagaimana pajak telah bergeser fungsi: dari instrumen pembangunan menjadi alat penekan warga.


Tak berhenti di situ, sorotan juga mengarah pada pembagian insentif pemungutan pajak daerah yang dinilai sarat ketimpangan dan konflik etika.


Pengamat kebijakan publik, Dr. Muh. Saleh, mengkritisi Peraturan Bupati Lombok Timur Nomor 9 Tahun 2024 tentang insentif pemungutan Pajak Bumi dan Bangunan Perdesaan dan Perkotaan (PBB-P2).


Dalam regulasi tersebut, Bupati memperoleh insentif 3,8 persen, Wakil Bupati 3,52 persen, dan Sekretaris Daerah 3,48 persen. Sementara Badan Pendapatan Daerah (Bapenda) menguasai porsi raksasa hingga 84,2 persen. Ironisnya, petugas pemungut di desa dan kelurahan—yang berhadapan langsung dengan kemarahan warga—hanya kebagian 5 persen.


“Lebih dari 10 persen dinikmati pejabat puncak daerah. Ini mencolok secara etika, apalagi saat masyarakat dipaksa membayar pajak dalam kondisi ekonomi sulit,” ujar Saleh.


Tekanan fiskal juga menghantam pelaku usaha. Sejumlah pemilik rumah makan dan UMKM mengeluhkan pajak restoran dan retribusi yang bisa mencapai belasan juta rupiah per bulan. Beban tersebut dinilai tak sebanding dengan daya beli masyarakat yang belum pulih.


Lebih ironis lagi, pajak yang dipungut dengan keras tidak berbanding lurus dengan kualitas layanan publik. Di sektor kesehatan, kondisi RSUD dr. R. Soedjono Selong menjadi potret paling telanjang dari paradoks PAD Lombok Timur.


Pasien mengeluhkan kekosongan obat. Banyak yang terpaksa membeli obat di luar rumah sakit, meski berstatus peserta BPJS Kesehatan.


Data GEMPA NTB mencatat, RSUD dr. R. Soedjono Selong menunggak pembayaran kepada hampir 40 Pedagang Besar Farmasi (PBF) dengan nilai mendekati Rp 30 miliar sejak 2025. Tak hanya itu, jasa medis tenaga kesehatan selama tiga bulan senilai Rp 10,8 miliar juga belum dibayarkan.


Kondisi ini memantik pertanyaan publik. RSUD dr. R. Soedjono Selong berstatus Badan Layanan Umum Daerah (BLUD) yang seharusnya memiliki fleksibilitas pengelolaan keuangan. Namun yang terjadi justru sebaliknya: rumah sakit megap-megap, obat kosong, dan tenaga medis menunggu haknya.


Dinata juga menyoroti Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBHCT) yang diterima Lombok Timur dalam jumlah besar. Sesuai aturan, 40 persen dana tersebut wajib dialokasikan untuk sektor kesehatan.


“Kalau DBHCT ada, PAD naik, klaim BPJS dibayar, lalu kenapa obat kosong? Ini bukan kebetulan. Ini kegagalan perencanaan dan dugaan salah kelola anggaran,” tandasnya.

Ia menegaskan, meskipun sebagian tunggakan berasal dari pengadaan tahun sebelumnya, pemerintah daerah saat ini tetap memikul tanggung jawab penuh untuk menjamin hak dasar masyarakat atas layanan kesehatan.


Hingga berita ini diterbitkan, Bupati Lombok Timur H. Haerul Warisin dan jajaran Pemerintah Kabupaten Lombok Timur belum memberikan pernyataan resmi terkait pemungutan DBHTB tanpa transaksi, pembagian insentif pajak yang timpang, serta krisis obat dan tunggakan miliaran rupiah di RSUD dr. R. Soedjono Selong. ***



(SandiP)

COMMENTS



Nama

a,1,abu dhabi,1,aceh,26,Aceh Barat,2,Aceh Tenggara,1,aceh timur,152,aceh utara,3,Adventorial,7,aek nabara,2,aimas,2,Ambarawa,2,amsterdam,1,Angkola Timur,1,anta beranta,1,artikel,3,Asahan,16,badau,3,badung,5,bagansiapiapi,3,balai jaya,1,bali,26,balige,1,banda aceh,6,bandar lampung,18,Bandung,78,bandung barat,5,banggai,1,bangka,135,bangka barat,74,bangka belitung,38,bangka selatan,17,bangka tengah,7,bangkalan,6,banjarmasin,1,banten,80,Banyuasin,2,banyumas,1,banyuwangi,145,barito selatan,3,barito utara,3,Bat,2,batam,7,batang,48,batang kuis,1,batu,1,batu bara,28,bekasi,48,belawan,28,belitung,586,belitung timur,27,beltim,66,bengkalis,4,bengkayang,22,Bengkulu,2,berau,4,bilah barat,1,Bilah Hulu,2,binjai,8,bintan,1,bintang meriah,1,bireuen,1,blitar,2,bogor,18,bojonegoro,3,bolsel,2,Bondowoso,9,boyolali,2,brebes,1,Catatan,1,ciami,3,ciamis,1294,Cianjur,36,Cikampek,1,Cikarang,1,cilacap,3,cilegon,7,cimahi,4,cirebon,11,Covid-19,14,Daerah,2812,Danau Toba,2,deli serdang,92,Demak,2,denpasar,19,Depok,6,DolokSanggul,1,dumai,2,Ekonomi,1,empanang,1,Empat Lawang,9,entikong,4,garut,5,Gorontalo,4,gresik,2,Gunung Megang,1,gunungsitoli,16,hajoran,3,halmahera,2,Halmahera Barat,16,Halmahera Selatan,4,Halmahera Tengah,9,Halmahera Timur,4,Haltim,1,Hamparan Perak,2,hinai,1,Hukum,2,Humbahas,1,idi rayeuk,1,Iklan,2,IKN,1,indonesia,1,indramayu,4,Internasional,1,jakarta,731,jakarta barat,12,jakarta selatan,2,jakarta timur,1,jakarta utara,1,jatim,3,jatinangor,1,Jawa Barat,12,Jawa Tengah,3,Jawa Timur,5,Jawabarat,5,jayapura,8,jember,10,Jepara,6,jombang,5,kab. bandung,7,Kab. Tasikmalaya,46,kab.bekasi,3,kab.berau,5,Kab.Bogor,1,Kab.Karo,4,Kab.Tasikmalaya,7,Kalbar,37,Kalimantan Barat,10,kalimantan timur,2,kalsel,1,Kalteng,2,Kaltim,5,Kampar,3,Kapuas Hulu,12,karawang,5,Karimun,95,Kasus,1,kayong utara,14,kediri,2,keerom,2,Kendalbulur,1,kendari,1,Kepri,10,ketapang,51,kisam ilir,1,klaten,39,kolaka timur,1,kota agung,8,Kota Maba,2,Kota Pinang,2,kotim,4,KPK,1,Kriminal,661,kuala behe,1,kuala pembuang,1,Kuala Tanjung,4,kuansing,1,kuantan singingi,1,kubu raya,445,kundur barat,1,kuningan,11,l Kuningan,1,Labubanbatu,63,Labubanbatu selatan,15,labuhan,1,labuhan deli,19,labuhanbatu,1559,Labuhanbatu Raya,2,labuhanbatu selatan,112,Labuhanbatu Utara,14,labura,35,labusel,29,lahat,2,Lahubanbatu,1,Lalilef,1,lamongan,3,Lampung,65,Lampung Barat,2,lampung selatan,5,Lampung tengah,15,Lampung timur,5,lampung utara,2,landak,45,langkat,229,langsa,3,lebak,17,lembak,1,limboto,1,lingga,49,lombok,1,lombok tengah,3,lombok timur,20,lombok utara,1,London(UK),1,Lubuk Lingga,2,Lubuk Linggau,3,lubuk pakam,1,LubukLinggau,2,lumajang,1,luwuk banggai,3,madiun,1,madura,2,Magelang,10,magetan,1,Majalengka,107,Makassar,2,malang,11,Maluku,3,maluku utara,8,malut,7,mamuju,3,manado,3,mandailing natal,20,Mandalika,1,manggar,5,manokwari,3,mataram,18,Maybrat,1,meda,1,medan,938,Melawi,57,mempawah,18,menggala kota,1,mengwi,1,menjalin,1,meranti,1,metro,1,minut,1,mojokerto,3,muara dua,14,muara enim,135,mukomuko,3,Muna,1,muntok,1,musi banyuasin,2,musi rawas,3,musi rawas utara,1,nanga pinoh,1,Nasional,1,Negeri Antah Berantah,9,negeri lama,1,New York City,2,Ngabang,1,nganjuk,3,Nias,17,Nias Barat,1,Nias Selatan,6,Nias utara,5,NTB,78,Nusa Dua,3,ogan ilir,4,OKI,4,oku selatan,11,pacitan,82,padalarang,1,padang lawas,6,padang lawas utara,1,padang sidimpuan,5,palangka raya,9,palas,2,palembang,17,pali,3,palopo,1,palu,5,paluta,1,pamekasan,3,Pandeglang,1115,pangandaran,2,pangkal pinang,34,Pangkalan Bun,2,papua,7,papua barat,4,parapat,2,Pargarutan,1,Pariaman,1,Pasuruan,2,pati,4,pekalongan,359,pekanbaru,15,Pemalang,3,Pematang Siantar,10,Pendidikan,3,Peristiwa,3023,pesawaran,72,pesisir barat,2,politik,116,ponorogo,3,Pontianak,549,pontianak utara,1,prabumulih,1,pringsewu,768,probolinggo,8,pulau panggung,2,purwakarta,6,purwokerto,1,Purworejo,1,putussibau,5,Rabat,1,radar kriminal,3,Ragam,2755,raja ampat,4,Rantauprapat,29,Riau,9,rokan hilir,27,rokan hulu,1,rote ndao,1,Samarinda,1,sambas,17,samosir,4,Sampang,43,sanggau,95,sarawak,1,sekadau,15,sekayam,1,Sekayu,1,selayar,1,selong,1,semarang,12,Serang,122,serdang bedagai,2,seruyan,1,siak,1,siantar,12,Sibayak,1,sibolangit,2,Sibolga,5,Siborongborong,1,sidempuan,1,sidoarjo,29,Simalungun,338,singkawang,42,sinjai,1,sintang,66,sipirok,2,situbondo,1,Sofifi,1,solo,1,solok,1,sorong,149,sorong selatan,21,Sosial,14,sragen,1,stabat,40,Suap,1,Subang,10,subulussalam,12,sukabumi,10,sukadana,1,sukajaya,1,Sulawesi Tengah,1,sulsel,5,sulteng,9,sumatera,1,sumbar,1,sumbawa barat,3,sumenep,4,sumsel,7,sumut,23,Sungai Ambawang,2,surabaya,46,surakarta,6,Takalar,2,TalangPadang,1,tambraw,2,tana tidung,1,tana toraja,1,tanah karo,2,tangerang,37,tangerang selatan,7,tanggamus,363,tanjabtim,15,tanjung agung,1,tanjung balai,2,tanjung enim,8,tanjung lalang,1,tanjung morawa,1,Tanjung Pinang,1,tanjungbalai,6,tanjungpandan,9,tapanuli selatan,21,tapanuli tengah,1,tapanuli utara,2,Tapsel,5,tarutung,1,tasikmalaya,245,tebing tinggi,19,Teekini,1,Ter,1,Terkin,7,Terkini,16757,Terkini kediri,1,Terkino,1,Terkinu,2,Terlini,1,ternate,6,tidore,1,Timika,1,toba,4,touna,27,trenggelek,5,tuban,4,tulang bawang,36,tulungagung,131,ujung tanjung,1,Undangan,1,way kanan,6,wonogiri,2,wonosobo,3,yalimo,1,yogyakarta,5,
ltr
item
radarkriminal.com: PAD Lompat Rp 553 Miliar, Rakyat Menjerit: Pajak Dicekik, Obat RSUD Kosong di Lombok Timur
PAD Lompat Rp 553 Miliar, Rakyat Menjerit: Pajak Dicekik, Obat RSUD Kosong di Lombok Timur
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiWlszIaPtgfM-vK-vD65vvayiMZk6aLOC2jf6ERbTYEztwyo7eqvn-LQ0_eXgYeH8SArEuGfl3MscyLuBKqEAJYuA34PwUkR53MkCOkeDxjMaZTXEZOvQKPzEMR_GTbsR9gLqyqtT9IPjCdf2hA976gYoGIHs37oJN2dtzFj1XA9HYDBkl2JqCq7dngLh6/s320/1002967388.jpg
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiWlszIaPtgfM-vK-vD65vvayiMZk6aLOC2jf6ERbTYEztwyo7eqvn-LQ0_eXgYeH8SArEuGfl3MscyLuBKqEAJYuA34PwUkR53MkCOkeDxjMaZTXEZOvQKPzEMR_GTbsR9gLqyqtT9IPjCdf2hA976gYoGIHs37oJN2dtzFj1XA9HYDBkl2JqCq7dngLh6/s72-c/1002967388.jpg
radarkriminal.com
https://www.radarkriminal.com/2026/01/pad-lompat-rp-553-miliar-rakyat.html
https://www.radarkriminal.com/
https://www.radarkriminal.com/
https://www.radarkriminal.com/2026/01/pad-lompat-rp-553-miliar-rakyat.html
true
1345356970573142364
UTF-8
Loaded All Posts Not found any posts VIEW ALL Readmore Reply Cancel reply Delete By Home PAGES POSTS View All RECOMMENDED FOR YOU LABEL ARCHIVE SEARCH ALL POSTS Not found any post match with your request Back Home Sunday Monday Tuesday Wednesday Thursday Friday Saturday Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat January February March April May June July August September October November December Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec just now 1 minute ago $$1$$ minutes ago 1 hour ago $$1$$ hours ago Yesterday $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago more than 5 weeks ago Followers Follow THIS CONTENT IS PREMIUM Please share to unlock Copy All Code Select All Code All codes were copied to your clipboard Can not copy the codes / texts, please press [CTRL]+[C] (or CMD+C with Mac) to copy