CIAMIS, RK Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Kabupaten Ciamis menggelar kegiatan Saresehan dan Focus Group Discussion (FGD) Kerukunan Uma...
CIAMIS, RK
Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Kabupaten Ciamis menggelar kegiatan Saresehan dan Focus Group Discussion (FGD) Kerukunan Umat Beragama di Aula Pertemuan MAKIN Ciamis, Sabtu (31/1/2026). Kegiatan ini menjadi momentum penting untuk memperkuat dialog lintas iman sekaligus memaparkan capaian positif kerukunan umat beragama di wilayah Ciamis.
Berdasarkan Survei Indeks Kerukunan Umat Beragama Tahun 2025, tingkat kerukunan di Kabupaten Ciamis tercatat mencapai angka 83,50 dari skala 100, dan masuk dalam kategori sangat tinggi. Capaian tersebut menunjukkan kuatnya toleransi dan keharmonisan kehidupan beragama di tengah masyarakat.
Saresehan yang berlangsung dalam suasana hangat dan penuh kebersamaan ini dihadiri oleh tokoh agama lintas iman, perwakilan organisasi kemasyarakatan, unsur pemerintah daerah, serta berbagai elemen masyarakat lainnya. Forum ini menjadi ruang pertemuan yang mempertemukan beragam pandangan dalam semangat persaudaraan.
Mengusung tema “Sawargi Salawasna, Manjang Manisna Menuju Ciamis Harmoni yang Berkelanjutan”, kegiatan ini dirancang sebagai wadah dialog dan refleksi bersama tentang pentingnya menjaga kerukunan umat beragama di tengah dinamika sosial, perkembangan teknologi, serta derasnya arus informasi di era digital.
Ketua Panitia, Cece Rosiman, S.Ag, menjelaskan bahwa saresehan ini dikemas sebagai ruang dialog yang inklusif, cair, dan setara bagi seluruh peserta. Menurutnya, kerukunan tidak dapat dibangun secara sepihak, melainkan melalui komunikasi terbuka yang saling menghargai.
“Forum ini kami rancang sebagai ruang kekeluargaan. Kerukunan hanya bisa tumbuh jika semua pihak merasa dihargai, didengar, dan memiliki ruang untuk menyampaikan pandangan,” ujarnya.
Sementara itu, Ketua FKUB Kabupaten Ciamis, Dr. Sumadi, M.Ag, menegaskan bahwa kerukunan umat beragama bukanlah kondisi yang hadir secara otomatis, melainkan hasil dari proses panjang yang harus terus dirawat bersama.
“Harmoni sosial tidak datang dengan sendirinya. Ia dibangun melalui dialog, kepercayaan antarkelompok, serta kesediaan untuk menahan ego identitas. Jika tidak dirawat, harmoni bisa menjadi rapuh,” tegasnya.
Pada kesempatan tersebut, Dr. Sumadi juga secara resmi merilis Survei Indeks Kerukunan Umat Beragama Kabupaten Ciamis Tahun 2025, yang melibatkan lebih dari 3.200 responden dari berbagai latar belakang agama. Hasil survei ini diharapkan menjadi pijakan bersama dalam merumuskan langkah strategis menjaga dan meningkatkan harmoni kehidupan beragama di Kabupaten Ciamis ke depan.
Editor (Y.P).

COMMENTS