Tulungagung, RK Menjamurnya kios ( tempat penjualan) daging sapi di Tulungagung menandakan betapa besarnya kebutuhan masyarakat akan konsum...
Tulungagung, RK
Menjamurnya kios ( tempat penjualan) daging sapi di Tulungagung menandakan betapa besarnya kebutuhan masyarakat akan konsumsi daging. Peredaran daging di Tulungagung tentunya harus melalui pemeriksaan kesehatan daging oleh Dinas Peternakan melalui dokter hewan yang ditunjuk.
Namun anehnya, Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Tulungagung, Mulyanto,S.Pt,MM enggan membeberkan jumlah kios daging yang ada di Tulungagung.
Mulyanto berdalih, belum menjadi konsumsi publik. Dengan kata lain, jumlah kios daging menjadi rahasia karena mungkin ada sesuatu yang tersembunyi.
Dalam saat konfirmasi dengan tim media, Mulyanto menambahkan bahwa jumlah RPH ( Rumah Pemotongan Hewan) di Tulungagung ada 4 ( empat) lokasi yaitu Suwaru, Ketanon, Ngunut dan Ngujang ( RPH Babi).
Dalam pantauan tim media, untuk kondisi RPH Bandung terkesan kotor dan tidak terawat.
Senin,11/8/2025.
AS warga masyarakat sekitar RPH menyampaikan, sudah lama tidak melihat ada aktivitas keluar masuk RPH, kondisi bangunan juga tidak terawat dan terkesan bangunan mangkrak.
Menjadi pertanyaan publik, bila RPH resmi tidak terpakai maka para pedagang ( kios) daging yang setiap hari diperjual belikan tersebut, dimana tempat pemotongannya? dan bagaimana pengawasan nya? jangan sampai kesehatan masyarakat dipertaruhkan hanya karena kelalaian.
Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan (DPKH) memiliki tugas dan fungsi untuk memastikan kesehatan sapi yang akan dipotong, baik sebelum (ante-mortem) maupun sesudah (post-mortem) penyembelihan. Pemeriksaan ini bertujuan untuk mencegah penyebaran penyakit, memastikan daging yang dihasilkan aman untuk dikonsumsi, serta menjaga kesejahteraan hewan.
Pertanyaannya, bila Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Tulungagung tidak transparan terhadap masyarakat bagaimana tahu bahwa daging yang dikonsumsi sudah melalui pemeriksaan dan dijamin layak dikonsumsi.
Tentunya masyarakat berharap, Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Tulungagung benar- benar melakukan pemeriksaan kesehatan yang komprehensif sebelum dan sesudah pemotongan, dalam menjaga kualitas daging yang dihasilkan, serta melindungi kesehatan masyarakat. Jangan sampai karena kelalaian mengorbankan kesehatan masyarakat, sehingga masyarakat dibayangi oleh penyakit zoonosis (penyakit yang dapat menular dari hewan ke manusia).
Selain RPH dan Kios daging, tim media juga konfirmasi terkait hibah ternak Kambing dan Persilangan Sapi Unggul tahun anggaran 2024 untuk masyarakat yang menghabiskan ratusan juta rupiah.
Namun lagi- lagi, Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Tulungagung terkesan tertutup dan tidak berkenan membuka dari kelompok mana yang memperoleh hibah tersebut. Bahkan Mulyanto mengatakan kepada tim media agar mencari sendiri informasi tersebut. Mulyanto menyampaikan tidak bisa memberikan informasi kepada publik.
Masyarakat berharap, uang APBD Tulungagung tidak dimanfaat oleh kelompok tertentu dan menjadi bancakan.
Keterbukaan informasi menjadi kunci utama agar masyarakat bisa mengetahui dan ikut mengawasi sehingga dana hibah tersebut tepat sasaran dan juga bisa dipertanggungjawabkan.
( red)



COMMENTS