Belitung, RK 15 September 2025 – Skandal memalukan kembali mencoreng nama pers Belitung Tiga pemuda yang salah satunya adalah Kepala Dusun (...
Belitung, RK
15 September 2025 – Skandal memalukan kembali mencoreng nama pers Belitung Tiga pemuda yang salah satunya adalah Kepala Dusun (Kadus) Aik Rayak, berinisial R alias Rio, bersama dua rekannya E alias Ebong dan P alias Pabel, ditangkap karena dugaan terlibat dalam jaringan narkoba. Namun, bukan hanya ketiganya yang menjadi sorotan, karena muncul nama oknum, wartawan yang diduga menjadi dalang utama dalam pusaran peredaran barang haram ini.
Penangkapan tersebut semula dilakukan secara diam-diam, tanpa keterangan resmi dari pihak kepolisian. Aroma ketertutupan ini justru memperkuat dugaan adanya permainan kotor di balik penindakan hukum yang seharusnya transparan. Bahkan, saat dikonfirmasi, salah satu pihak internal APH hanya menjawab normatif: “Tunggu konferensi pers minggu depan.” Jawaban yang terdengar seperti tameng, bukan klarifikasi.
Informasi dari salah satu narasumber yang enggan disebutkan namanya menyebutkan bahwa oknum wartawan suka memesan tersebut bukan sekadar pembeli, melainkan pengendali peredaran narkoba tingkat lokal, yang memanfaatkan ' untuk mengatur pergerakan barang dari luar ke dalam Belitung. Sosok ini disebut sebagai "oknum misterius", namun desas-desus menyebut inisialnya sudah beredar di kalangan wartawan.
Dalam konferensi pers yang akhirnya digelar Satnarkoba Polres Belitung, pihak kepolisian tampak berusaha menutup rapat informasi soal keterlibatan oknum internal. Publik pun menilai, konferensi pers itu hanya formalitas untuk meredam tekanan publik dan media. Tidak ada transparansi, tidak ada kejelasan. Hanya janji, bahwa "penyelidikan masih berlangsung."
Pernyataan paling mengejutkan datang dari tersangka R alias Rio. Dalam interogasi awal, ia mengaku pernah menerima pesanan langsung dari oknum wartawan diduga rutin menjadi pelanggan tetap. Fakta ini, jika benar, adalah tamparan keras terhadap sistem pers di Belitung Bagaimana mungkin, pencari informasi dan menegakkan lurus hukum bisa adil
Selanjutnya pendapat dari tim LSM bin APH Aparat Penegak Hukum jangan coba terlibat dalam pemasukan permainan yang merusak anak bangsa dan generasi muda kalau itu terjadi " Kasus ini menunjukkan betapa sistem pemberantasan narkoba sangat rapuh. Ketika aparat yang seharusnya menjadi garda terdepan justru bermain di dua kaki – menangkap sekaligus melindungi – maka perlawanan terhadap narkoba hanya menjadi ilusi. Ini bukan lagi sekadar pelanggaran, tapi pengkhianatan terhadap negara dan masyarakat.
Belitung, yang selama ini dikenal sebagai wilayah wisata yang damai, perlahan terkuak sebagai ladang subur peredaran narkoba, dengan pelaku yang bukan orang luar, melainkan bagian dari struktur resmi. Ini bukan sekadar persoalan kriminal, tapi persoalan sistemik yang membutuhkan pembersihan total.
Simbol "Stop Narkoba" yang dipasang di halte, ATM, hingga sekolah, menjadi omong kosong jika realitas di lapangan menunjukkan sebaliknya. Ketika pejabat, aparat, bahkan tokoh masyarakat terlibat, maka slogan itu hanya menjadi hiasan tanpa nyawa. Kampanye yang gagal, karena tidak dimulai dari atas.
BNN, sebagai lembaga yang dipercaya menangani P4GN (Pencegahan, Pemberantasan, Penyalahgunaan dan Peredaran Gelap Narkoba), tidak bisa tinggal diam. Harus ada investigasi menyeluruh yang melibatkan lembaga eksternal dan independen. Jika tidak, kepercayaan publik terhadap institusi hukum akan ambruk total.
LSM BIN dan sejumlah media lokal saat ini tengah melakukan investigasi paralel, guna mengungkap siapa sebenarnya dalang di balik jaringan ini. Menurut Ketua LSM BIN, Lendra Gunawan, merangkul kaperwil mediaonline radarkriminal.com pihaknya telah mengantongi sejumlah nama yang diduga kuat sebagai pengatur lalu lintas narkoba di Belitung. “Ini bukan kerjaan tiga anak muda. Ada mesin besar di belakang mereka,” tegas Lendra.
Masyarakat Belitung kini menanti, apakah hukum benar-benar ditegakkan atau kembali menjadi alat mainan para penguasa. Kasus ini menjadi ujian, apakah negara akan melindungi rakyatnya atau justru membiarkan mereka mati perlahan dalam cengkeraman narkoba yang dilindungi seragam.
(Cilub ba Len selebewwwwwww)

COMMENTS