Pandeglang, RK Kekuasaan Indomaret dan Alfamart kini dinilai mulai goyah setelah hadirnya Warung Madura di sejumlah kota di Indonesia. Fenom...
Pandeglang, RK
Kekuasaan Indomaret dan Alfamart kini dinilai mulai goyah setelah hadirnya Warung Madura di sejumlah kota di Indonesia.
Fenomena Warung Madura yang tak pernah tutup ini menarik perhatian banyak orang. Warung- warung ini sangat konsisten menjalankan operasionalnya selama 24 jam.
Warung sembako ini mulai bermunculan di wilayah Kabupaten Pandeglang sejak tiga tahun terakhir. Masyarakat pun memberi julukan khusus kepada Warung Madura, menyebutnya sebagai tempat yang hanya akan tutup saat kiamat tiba.
Warung Madura yang buka 24 jam nonstop menjual berbagai barang kebutuhan rumah tangga, layaknya minimarket, namun harganya lebih murah karena berbentuk warung kelontong. Beberapa di antara Warung Madura itu dilengkapi stasiun mini pengisian bahan bakar umum di depannya.
Rentengan snack, sabun, rokok, dan aneka barang digantung di rak kaca yang juga berisi aneka barang kebutuhan harian. Kulkas di pojok sebelah kanan, rak pendingin es krim di depan, deretan air minum dalam kemasan galon melengkapi dagangan mereka.
Barang jualan meluber hingga emper warung yang tak mungkin tiap warung ditutup harus dimasukkan dan esoknya dikeluarkan kembali. Hal itulah yang mengharuskan mereka membuka warung 24 jam, sama seperti apotek dan minimarket.
Tidak hanya itu, dalam tiga tahun belakangan ini, Warung Madura menjamur dengan pesat di wilayah Kabupaten Pandeglang. Bahkan, beberapa di antaranya berjejeran dengan jarak hanya 100 meter saja.
Pesona warung Madura seperti milik Wahyudin tepatnya di Kp Lebakbuah Desa Citeureup Kecamatan Panimbang Kabupaten Pandeglang Propinsi Banten belakangan ini semakin menyita perhatian.
Bukan hanya karena jumlahnya yang semakin menjamur, namun juga karena isu pembatasan jam buka yang sempat viral beberapa waktu lalu menjadi penyebabnya.
Puluhan tahun terakhir, masyarakat tak bisa berbuat apa-apa dengan kepungan retail-retail modern berbentuk minimarket yang menjamur di setiap sudut kota.
Warung-warung kelontong tradisional perlahan tersisihkan dan jumlahnya semakin berkurang. Menjamurnya warung Madura belakangan seperti menjadi titik balik dari itu semua.
Kepada media Wahyudin pria asal Situbondo ini mengatakan, warung Madura bermula dari usaha milik sekelompok orang-orang asal Madura bahkan ada juga dari Situbondo yang merantau ke Kabupaten Pandeglang.
Kebanyakan dari mereka memilih untuk berdagang dengan membuka warung di perantauan dengan ciri khas tatanan toko warung Madura seperti yang kita kenal saat ini.
" Ya benar, pencetusnya warung Madura sudah ada dari tahun 1990 di jakarta. Alhamdulillah kami buka di Pandeglang sekarang," katanya
Wahyudin yang warungnya berada di Jalan Raya Tanjunglesung-Panimbang juga mengatakan, sebenarnya tidak ada pakem khusus untuk tatanan warung Madura. Hanya saja, kebanyakan pemilik warung Madura memang ingin memanfaatkan ruang sempit yang mereka miliki dengan sebaik mungkin.
"Orang-orang Madura merasa desain seperti ini membuat toko tampak rapi dan bersih. Itu saja," terangnya. Pada Kamis(19/2/26)
Baginya, niatnya berdagang hanya mencari nafkah. “Ndak ada niat lain,” ucapnya.
Persaingan dengan retail minimarket modern juga tidak dia pusingkan. Bagi Wahyudin, tidak ada pikiran Warung Madura miliknya bersaing dengan minimarket. "Rezeki semua sudah ada yang ngatur, ada porsinya masing-masing," pungkasnya.
(YEN)


COMMENTS