“Dari Meja Pengadaan ke Meja Kekuasaan: Rp2 Miliar dan Misteri Kebal Hukum Sekda”

Lombok Timur, RK 18 Maret 2026 — Persidangan perkara dugaan korupsi pengadaan Chromebook 2022 di Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Lombok Timu...


Lombok Timur, RK

18 Maret 2026 — Persidangan perkara dugaan korupsi pengadaan Chromebook 2022 di Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Lombok Timur kini tidak lagi sekadar membuka praktik penyimpangan administratif. Ia telah menjelma menjadi autopsi terbuka atas relasi kuasa dan hukum—dan, seperti lazimnya, yang paling telanjang justru bukan pelaku teknis, melainkan struktur yang melindunginya.


Dalam dakwaan yang dibacakan di Pengadilan Tipikor Mataram, konstruksi perkara tidak berhenti pada manipulasi proses pengadaan. Ia merembet ke sesuatu yang jauh lebih sensitif: aliran uang yang ditengarai bergerak dari tangan pelaksana menuju lingkar inti kekuasaan daerah.


Narasi persidangan mengurai secara kronologis bagaimana dana diduga diserahkan oleh terdakwa kepada Sekretaris Daerah. Skemanya tidak vulgar, tidak pula teatrikal justru banal, seperti praktik yang telah berulang kali dinormalisasi. Uang bergerak dalam senyap, melalui perantara, dalam ruang-ruang yang tidak tercatat secara administratif, tetapi justru di situlah politik anggaran bekerja dalam bentuk paling jujurnya.


Jika benar uraian tersebut, maka yang sedang kita saksikan bukan sekadar “aliran dana”, melainkan representasi konkret dari apa yang dalam literatur hukum disebut sebagai informal power transaction, transaksi kekuasaan yang tidak pernah tertulis, tetapi menentukan segalanya.


Di titik ini, absurditas mulai terasa sistemik. Enam terdakwa telah duduk di kursi pesakitan, sementara nama yang disebut dalam arsitektur aliran dana masih berdiri di luar ruang sidang, utuh, steril, seolah tidak tersentuh oleh gravitasi hukum. Sebuah ironi yang terlalu presisi untuk disebut kebetulan.


Pengembalian Rp500 juta oleh terdakwa Salmukin, dalam logika hukum, memang dapat dibaca sebagai bentuk itikad baik. Namun dalam perspektif yang lebih kritis, ia menyerupai fragmen kecil dari struktur kerugian yang jauh lebih besar, sejenis “uang pengakuan diam-diam” bahwa ada sesuatu yang lebih masif sedang disembunyikan di balik angka-angka resmi.


Ketua IT99, Hadiyat Dinata, membaca fenomena ini bukan sebagai anomali kasus, melainkan gejala klasik dari penegakan hukum yang bernegosiasi dengan kekuasaan.


“Ketika dakwaan secara eksplisit menyebut aliran dana hingga miliaran rupiah ke level Sekda, maka itu bukan lagi pinggiran perkara, itu episentrumnya. Jika bagian ini tidak disentuh, maka hukum sedang melakukan amputasi selektif terhadap kebenaran,” ujarnya dengan nada dingin namun menggigit.


Sebagai akademisi, Hadiyat menegaskan bahwa reduksi tanggung jawab pada pelaksana teknis adalah bentuk simplifikasi yang secara teoritik cacat. Ia merujuk pada doktrin command responsibility, yang justru menempatkan aktor pengendali kebijakan sebagai titik sentral pertanggungjawaban.


“Dalam hukum pidana modern, kekuasaan tidak selalu hadir dalam bentuk tanda tangan. Ia hadir dalam instruksi tak tertulis, dalam tekanan yang tidak terdokumentasi, bahkan dalam pembiaran yang disengaja. Ketika kebijakan sejak awal telah terdistorsi, maka tanggung jawab tidak mungkin berhenti pada operator. Itu bukan penegakan hukum, itu dramaturgi,” tegasnya.


Sindiran itu kemudian menjelma kritik terbuka.


“Kita sedang menyaksikan seleksi tumbal. Mereka yang berada di lapisan bawah diproses cepat, sementara yang disebut dalam konstruksi perkara justru bergerak di ruang aman. Ini bukan sekadar ketimpangan, ini desain,” katanya tajam.


Ia bahkan mempertanyakan stagnasi penyidikan yang tidak berkembang meski fakta persidangan telah membuka ruang eksplorasi lebih jauh.


“Kalau fakta sudah berbicara tetapi aparat memilih diam, maka problemnya bukan pada alat bukti. Problemnya ada pada keberanian. Pertanyaannya sederhana: hukum ini sedang bekerja, atau sedang dikendalikan?” ujarnya.


Kasus ini, pada akhirnya, tidak lagi berdiri sebagai perkara korupsi biasa. Ia telah berubah menjadi cermin retak dari prinsip equality before the law. Dan seperti semua cermin retak, ia tidak hanya memantulkan wajah pelaku, tetapi juga memperlihatkan cacat sistem yang selama ini disembunyikan.


Jika aliran dana benar mengarah ke pusat kendali kebijakan, maka berhenti di level teknis bukanlah penegakan hukum. Itu adalah kompromi yang dipoles menjadi prosedur.


Dan dalam negara hukum, kompromi semacam itu bukan sekadar kegagalan melainkan bentuk paling halus dari pengkhianatan.***

Seyusandi 

COMMENTS



Nama

a,1,abu dhabi,1,aceh,26,Aceh Barat,2,Aceh Tenggara,1,aceh timur,152,aceh utara,3,Adventorial,7,aek nabara,2,aimas,2,Ambarawa,2,amsterdam,1,Angkola Timur,1,anta beranta,1,artikel,3,Asahan,16,badau,3,badung,5,bagansiapiapi,3,balai jaya,1,bali,26,balige,1,banda aceh,6,bandar lampung,18,Bandung,78,bandung barat,5,banggai,1,bangka,135,bangka barat,74,bangka belitung,39,bangka selatan,17,bangka tengah,7,bangkalan,6,banjarmasin,1,banten,81,Banyuasin,2,banyumas,1,banyuwangi,145,barito selatan,3,barito utara,3,Bat,2,batam,7,batang,48,batang kuis,1,batu,1,batu bara,28,bekasi,48,belawan,29,belitung,602,belitung timur,28,beltim,69,bengkalis,4,bengkayang,22,Bengkulu,2,berau,4,bilah barat,1,Bilah Hulu,2,binjai,8,bintan,1,bintang meriah,1,bireuen,1,blitar,2,bogor,18,bojonegoro,3,bolsel,2,Bondowoso,9,boyolali,2,brebes,1,Catatan,1,ciami,3,ciamis,1356,Cianjur,36,Cikampek,1,Cikarang,1,cilacap,3,cilegon,7,cimahi,4,cirebon,11,Covid-19,14,Daerah,2812,Danau Toba,2,deli serdang,97,Demak,2,denpasar,19,Depok,6,DolokSanggul,1,dumai,2,Ekonomi,1,empanang,1,Empat Lawang,9,entikong,4,garut,5,Gorontalo,4,gresik,2,Gunung Megang,1,gunungsitoli,16,hajoran,3,halmahera,2,Halmahera Barat,16,Halmahera Selatan,4,Halmahera Tengah,9,Halmahera Timur,4,Haltim,1,Hamparan Perak,2,hinai,1,Hukum,2,Humbahas,1,idi rayeuk,1,Iklan,2,IKN,1,indonesia,1,indramayu,4,Internasional,1,jakarta,732,jakarta barat,12,jakarta selatan,2,jakarta timur,1,jakarta utara,1,jatim,3,jatinangor,1,Jawa Barat,12,Jawa Tengah,3,Jawa Timur,5,Jawabarat,5,jayapura,8,jember,10,Jepara,6,jombang,5,kab. bandung,7,Kab. Tasikmalaya,47,kab.bekasi,3,kab.berau,5,Kab.Bogor,1,Kab.Karo,9,Kab.Tasikmalaya,8,Kalbar,37,Kalimantan Barat,10,kalimantan timur,2,kalsel,1,Kalteng,2,Kaltim,5,Kampar,3,Kapuas Hulu,12,karawang,5,Karimun,95,Kasus,1,kayong utara,14,kediri,2,keerom,2,Kendalbulur,1,kendari,1,Kepri,10,ketapang,51,kisam ilir,1,klaten,39,kolaka timur,1,kota agung,8,Kota Maba,2,Kota Pinang,2,kotim,4,KPK,1,Kriminal,661,kuala behe,1,kuala pembuang,1,Kuala Tanjung,4,kuansing,1,kuantan singingi,1,kubu raya,445,kundur barat,1,kuningan,11,l Kuningan,1,Labubanbatu,64,Labubanbatu selatan,15,labuhan,1,labuhan deli,19,labuhanbatu,1563,Labuhanbatu Raya,2,labuhanbatu selatan,112,Labuhanbatu Utara,14,labura,35,labusel,29,lahat,2,Lahubanbatu,1,Lalilef,1,lamongan,3,Lampung,65,Lampung Barat,2,lampung selatan,5,Lampung tengah,15,Lampung timur,5,lampung utara,2,landak,45,langkat,229,langsa,3,lebak,17,lembak,1,limboto,1,lingga,49,lombok,1,lombok tengah,3,lombok timur,22,lombok utara,1,London(UK),1,Lubuk Lingga,2,Lubuk Linggau,3,lubuk pakam,1,LubukLinggau,2,lumajang,1,luwuk banggai,3,madiun,1,madura,2,Magelang,10,magetan,1,Majalengka,108,Makassar,2,malang,11,Maluku,3,maluku utara,8,malut,7,mamuju,3,manado,3,mandailing natal,20,Mandalika,1,manggar,5,manokwari,3,mataram,18,Maybrat,1,meda,1,medan,992,Melawi,57,mempawah,18,menggala kota,1,mengwi,1,menjalin,1,meranti,1,metro,1,minut,1,mojokerto,3,muara dua,14,muara enim,135,mukomuko,3,Muna,1,muntok,1,musi banyuasin,2,musi rawas,3,musi rawas utara,1,nanga pinoh,1,Nasional,1,Negeri Antah Berantah,9,negeri lama,1,New York City,2,Ngabang,1,nganjuk,3,Nias,17,Nias Barat,1,Nias Selatan,6,Nias utara,5,NTB,78,Nusa Dua,3,ogan ilir,4,OKI,4,oku selatan,11,pacitan,87,padalarang,1,padang lawas,6,padang lawas utara,1,padang sidimpuan,5,palangka raya,9,palas,2,palembang,17,pali,3,palopo,1,palu,5,paluta,1,pamekasan,3,Pandeglang,1180,pangandaran,2,pangkal pinang,34,Pangkalan Bun,2,papua,7,papua barat,4,parapat,2,Pargarutan,1,Pariaman,1,Pasuruan,2,pati,4,pekalongan,359,pekanbaru,15,Pemalang,3,Pematang Siantar,10,Pendidikan,3,Peristiwa,3023,pesawaran,72,pesisir barat,2,politik,116,ponorogo,3,Pontianak,549,pontianak utara,1,prabumulih,1,pringsewu,768,probolinggo,8,pulau panggung,2,purwakarta,6,purwokerto,1,Purworejo,1,putussibau,5,Rabat,1,radar kriminal,3,Ragam,2755,raja ampat,4,Rantauprapat,29,Riau,9,rokan hilir,27,rokan hulu,1,rote ndao,1,Samarinda,1,sambas,17,samosir,4,Sampang,44,sanggau,95,sarawak,1,sekadau,15,sekayam,1,Sekayu,1,selayar,1,selong,1,semarang,12,Serang,126,serdang bedagai,2,seruyan,1,siak,1,siantar,12,Sibayak,1,sibolangit,2,Sibolga,5,Siborongborong,1,sidempuan,1,sidoarjo,29,Simalungun,340,singkawang,42,sinjai,1,sintang,66,sipirok,2,situbondo,1,Sofifi,1,solo,1,solok,1,sorong,149,sorong selatan,21,Sosial,14,sragen,1,stabat,40,Suap,1,Subang,10,subulussalam,12,sukabumi,10,sukadana,1,sukajaya,1,Sulawesi Tengah,1,sulsel,5,sulteng,9,sumatera,1,sumbar,1,sumbawa barat,3,sumenep,4,sumsel,7,sumut,23,Sungai Ambawang,2,surabaya,46,surakarta,6,Takalar,3,TalangPadang,1,tambraw,2,tana tidung,1,tana toraja,1,tanah karo,6,tangerang,37,tangerang selatan,7,tanggamus,363,tanjabtim,15,tanjung agung,1,tanjung balai,2,tanjung enim,8,tanjung lalang,1,tanjung morawa,1,Tanjung Pinang,1,tanjungbalai,6,tanjungpandan,9,tapanuli selatan,21,tapanuli tengah,1,tapanuli utara,2,Tapsel,5,tarutung,1,tasikmalaya,255,tebing tinggi,19,Teekini,1,Ter,1,Terkin,7,Terkini,17009,Terkini kediri,1,Terkino,1,Terkinu,2,Terlini,1,ternate,6,tidore,1,Timika,1,toba,4,touna,27,trenggelek,5,tuban,4,tulang bawang,36,tulungagung,134,ujung tanjung,1,Undangan,1,way kanan,7,wonogiri,2,wonosobo,3,yalimo,1,yogyakarta,5,
ltr
item
radarkriminal.com: “Dari Meja Pengadaan ke Meja Kekuasaan: Rp2 Miliar dan Misteri Kebal Hukum Sekda”
“Dari Meja Pengadaan ke Meja Kekuasaan: Rp2 Miliar dan Misteri Kebal Hukum Sekda”
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgB3kKS_TNNXOb0MFu5vDDRrWBkz1EqSjNEiYt1lM3z723S8TAhn0vIrhtgz8TCt7ESq7kDCS8UG_h8jWW-btrmBapHK2fCMmYPUvyfasei_ArrT33hiqOv6W8BbavJrPGpusF8aOA8kZHF96gaFxA-T3AsAHDwvcicPzoTPXBli-8oFCoX3vrnKRcoMzCu/s320/1003660482.jpg
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgB3kKS_TNNXOb0MFu5vDDRrWBkz1EqSjNEiYt1lM3z723S8TAhn0vIrhtgz8TCt7ESq7kDCS8UG_h8jWW-btrmBapHK2fCMmYPUvyfasei_ArrT33hiqOv6W8BbavJrPGpusF8aOA8kZHF96gaFxA-T3AsAHDwvcicPzoTPXBli-8oFCoX3vrnKRcoMzCu/s72-c/1003660482.jpg
radarkriminal.com
https://www.radarkriminal.com/2026/03/dari-meja-pengadaan-ke-meja-kekuasaan.html
https://www.radarkriminal.com/
https://www.radarkriminal.com/
https://www.radarkriminal.com/2026/03/dari-meja-pengadaan-ke-meja-kekuasaan.html
true
1345356970573142364
UTF-8
Loaded All Posts Not found any posts VIEW ALL Readmore Reply Cancel reply Delete By Home PAGES POSTS View All RECOMMENDED FOR YOU LABEL ARCHIVE SEARCH ALL POSTS Not found any post match with your request Back Home Sunday Monday Tuesday Wednesday Thursday Friday Saturday Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat January February March April May June July August September October November December Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec just now 1 minute ago $$1$$ minutes ago 1 hour ago $$1$$ hours ago Yesterday $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago more than 5 weeks ago Followers Follow THIS CONTENT IS PREMIUM Please share to unlock Copy All Code Select All Code All codes were copied to your clipboard Can not copy the codes / texts, please press [CTRL]+[C] (or CMD+C with Mac) to copy