Qa Belitung, radarkriminal.com Di sebuah pulau yang dikenal dengan keindahan alamnya, tersimpan cerita lain yang jauh dari kata indah. Di b...
Belitung, radarkriminal.com
Di sebuah pulau yang dikenal dengan keindahan alamnya, tersimpan cerita lain yang jauh dari kata indah. Di balik aktivitas masyarakat sehari-hari, praktik tambang timah ilegal disebut-sebut terus berdenyut, bahkan diduga terlindungi oleh kekuatan yang semestinya berdiri di garis depan penegakan hukum.
Awak media menelusuri sejumlah titik yang oleh warga setempat sudah bukan rahasia lagi. Aktivitas yang dikenal sebagai “meja goyang” tampak hidup di ruang-ruang terbuka—di tepi jalan, di bawah rindang pohon, hingga di kawasan yang sulit dijangkau pengawasan. Namun, cerita yang berkembang di lapangan menyebutkan bahwa ini bukan sekadar tempat hiburan. Ada dugaan kuat, lokasi-lokasi ini menjadi simpul dari perputaran ekonomi tambang ilegal.
Sumber yang ditemui di lapangan, yang meminta identitasnya dirahasiakan, menggambarkan bagaimana rantai aktivitas itu berjalan. Dari hasil tambang yang tidak berizin, distribusi yang terorganisir, hingga proses pembakaran timah yang bahkan disebut menggunakan gas subsidi—semuanya berlangsung seperti sistem yang sudah mapan. “Di situ lengkap… bukan cuma tempat kumpul,” ujarnya singkat, memberi gambaran bahwa praktik ini jauh lebih kompleks dari yang terlihat di permukaan.
Di tengah pusaran itu, mencuat nama seorang oknum berinisial BR dari intansi Oknum TNI AD yang diduga memiliki keterkaitan dengan aktivitas tambang ilegal. Nama ini beredar dari mulut ke mulut di kalangan pekerja lapangan, menjadi simbol dari dugaan adanya “bekingan” yang membuat aktivitas tersebut tetap berjalan tanpa tersentuh.
Jika dugaan ini benar, maka yang dipertaruhkan bukan hanya soal pelanggaran hukum biasa, melainkan juga integritas institusi. Prajurit Tentara Nasional Indonesia secara tegas dilarang terlibat dalam kegiatan bisnis atau membekingi usaha ilegal. Aturan ini bukan sekadar formalitas, melainkan fondasi untuk menjaga kepercayaan publik terhadap institusi negara.
Presiden Prabowo Subianto sendiri telah berkali-kali menegaskan bahwa tidak boleh ada kompromi terhadap aparat yang terlibat dalam praktik ilegal, terutama di sektor sumber daya alam yang menyangkut kepentingan negara. Pernyataan tersebut kini seolah menemukan relevansinya di Belitung—sebuah ujian nyata, apakah perintah itu benar-benar ditegakkan hingga ke lapisan paling bawah.
Yang membuat publik gelisah bukan hanya dugaan keterlibatan oknum, tetapi juga fakta bahwa aktivitas ini disebut berlangsung cukup terbuka. Di saat hukum seharusnya hadir sebagai pengendali, justru muncul kesan adanya ruang kosong yang tidak tersentuh. Pertanyaan pun mengemuka dengan nada yang semakin keras: di mana peran Aparat Penegak Hukum ketika praktik seperti ini bisa berjalan tanpa hambatan berarti?
Belitung kini seperti cermin kecil dari persoalan yang lebih besar. Ketika tambang ilegal terus beroperasi, ketika fasilitas pendukungnya tumbuh tanpa rasa takut, dan ketika nama aparat mulai terseret dalam percakapan publik, maka ini bukan lagi isu daerah. Ini adalah alarm bagi negara.
Hingga laporan ini diturunkan, awak media bersama tim investigasi LSM bin masih berupaya mengonfirmasi berbagai pihak terkait, termasuk institusi resmi. Setiap informasi yang diperoleh terus diverifikasi untuk memastikan akurasi dan keadilan pemberitaan. Namun satu hal yang pasti, isu ini tidak bisa dibiarkan menguap begitu saja.
Jika benar ada oknum yang bermain di balik praktik ilegal ini, maka tindakan tegas bukan lagi pilihan, melainkan keharusan. Sebab yang sedang diuji hari ini bukan hanya penegakan hukum di Belitung, tetapi juga wibawa negara di mata rakyatnya sendiri.
( lendra gunawan )

COMMENTS