Belitung Timur, radarkriminal.com 26 Maret 2026 —Dugaan praktik mafia bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi jenis solar kembali mencuat dan k...
Belitung Timur, radarkriminal.com
26 Maret 2026 —Dugaan praktik mafia bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi jenis solar kembali mencuat dan kali ini mengguncang wilayah SPBU Bentaian, Jalan Raya Manggar, Belitung Timur. Tim Investigasi LSM BIN Wilayah Bangka Belitung bersama Tim Liputan Khusus Radar Kriminal menemukan indikasi kuat adanya permainan terstruktur yang diduga telah berlangsung lama dan merugikan negara serta masyarakat kecil.
Dari hasil penelusuran lapangan, aktivitas pengisian solar menggunakan jerigen dalam jumlah besar tampak berlangsung berulang dan terorganisir. Nama “Mantri” mencuat sebagai sosok yang diduga menjadi pengendali lapangan, bersama rekannya yang dikenal dengan sapaan “Kik Jenggot”. Keduanya disebut-sebut mengatur alur pengisian hingga distribusi solar bersubsidi di luar ketentuan.
Di tengah sistem pengawasan digital seperti My Pertamina yang dirancang untuk memastikan subsidi tepat sasaran, realitas di lapangan justru menunjukkan celah yang diduga dimanfaatkan secara sistematis. Solar subsidi yang seharusnya dinikmati masyarakat kecil, diduga dialihkan melalui praktik pelangsiran menggunakan jerigen, bahkan terindikasi ditimbun di salah satu rumah yang kini masih dalam pendalaman tim investigasi.
Seorang warga setempat yang meminta identitasnya dirahasiakan mengungkapkan bahwa aktivitas tersebut bukan hal baru.
“Hampir setiap hari ada pengisian pakai jerigen, jumlahnya tidak sedikit. Bahkan ada yang dibawa dan diduga disimpan dulu sebelum dijual kembali,” ujarnya.
Jika dugaan ini terbukti, maka praktik tersebut bukan sekadar pelanggaran administratif, melainkan berpotensi menjadi kejahatan ekonomi terorganisir yang merugikan negara dalam skala besar. Penyalahgunaan BBM subsidi, termasuk penimbunan dan pelangsiran, merupakan tindak pidana serius dengan ancaman hukuman berat, termasuk denda hingga puluhan miliar rupiah.
Tekanan terhadap dugaan praktik ini semakin menguat setelah tim LSM BIN Wilayah Bangka Belitung salah satu anggota LSM Bin AB, angkat bicara dengan nada keras dan tanpa kompromi.Ditemui di Markas LSM BIN Wilayah Babel, Rabu (25/03/2026), ia menegaskan bahwa pihaknya tidak akan mundur menghadapi praktik yang dinilai telah merampas hak rakyat.
“Ini bukan lagi pelanggaran biasa. Ini sudah perampasan hak rakyat secara terang-terangan. Kami tidak akan diam. Jika aktivitas ini tidak dihentikan sekarang juga, kami pastikan laporan resmi akan kami bawa hingga ke Mabes Polri,” tegasnya.
Lebih jauh, AB mengungkapkan adanya upaya-upaya tertentu yang mencoba meredam pemberitaan yang telah dinaikkan. Namun ia memastikan, tekanan tersebut tidak akan mempengaruhi sikap lembaganya.
“Sekalipun ada yang mencoba bernegosiasi agar berita ini dihapus atau dihentikan, kami tegaskan tidak ada tawar-menawar untuk kebenaran. Kami tidak bisa dibungkam. Ini menyangkut kepentingan publik,” ujarnya tajam.
Ia pun memberikan ultimatum terbuka kepada pihak-pihak yang diduga terlibat.
“Hentikan sekarang juga praktik ilegal itu, atau kami akan layangkan laporan resmi ke aparat penegak hukum. Jangan uji keseriusan kami. Semua data awal sudah kami pegang,” katanya dengan nada tegas.
Menurutnya, praktik pengisian jerigen secara masif dan dugaan penimbunan solar bersubsidi menunjukkan adanya pola yang tidak lagi sporadis, melainkan terstruktur dan berpotensi melibatkan lebih dari satu pihak.
“Negara tidak boleh kalah oleh mafia. Siapapun yang bermain harus bertanggung jawab. Tidak ada yang kebal hukum,” lanjutnya.
Tim Investigasi LSM BIN Babel dan Radar Kriminal juga mendesak pihak Pertamina untuk segera melakukan audit menyeluruh terhadap operasional SPBU terkait, serta meminta Aparat Penegak Hukum turun langsung melakukan penyelidikan tanpa tebang pilih.
Hingga berita ini diterbitkan, upaya konfirmasi kepada pihak-pihak terkait masih terus dilakukan. Tim investigasi memastikan akan terus menelusuri alur distribusi, mengungkap jaringan yang terlibat, dan membuka secara terang praktik yang selama ini diduga berlangsung di balik layar.
(Lendra gunawan)

COMMENTS